<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://senayan.diknas.go.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods ID="112887" version="3.3">
<titleInfo>
<title>Semantik 2 Pemahaman Ilmu Makna</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Prof. Dr. Hj. T Fatimah Djaja Sudarma</namePart>
<role><roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Bandung</placeTerm></place>
<publisher>PT. Refika Aditama</publisher>
<dateIssued>2010</dateIssued>
<issuance>continuing</issuance>
<frequency>Weekly</frequency>
<edition>Cetakan 1</edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">Text</form>
<extent>ix,110hal; 17,5x25 cm</extent>
</physicalDescription>
<note>Perkembangan ilmu ditandai dengan banyaknya bahan bacaan mengenai ilmu tersebut. Ilmu makna (semantik) sebagai ilmu baru yang berkembang pada tahun 1970-an di dunia linguistik dan semantik di Indonesia baru berkembang pada tahun 1980-an, Kemampuan mengolah dan memahami pemerian kebahasaan ada pada aspek makna di dalam linguistik. Kemampuan suatu bahasa menjadi bahasa ilmu dapat dipertimbangkan melalui kecendekiaan bahasa antara lain yang dikemukakan oleh pemuka aliran Praha (Prague Schoon), bahwa kecendekiaan bahasa ditandai oleh: (1) kemampuannya dalam membentuk dan menyampaikan pernyataan yang tepat, saksama, dan kaya: (2) bentuk kalimatnya, mencerminkan ketelitian penalaran yang objektif sehingga relasi strukturnya mirip proposisi logika: dan (3) mampu menunjukkan hubungan antarkalimat yang selaras, logis, dan memiliki keutuhan (Havranek, 1964). Dari ketiga syarat tersebut kita dapat mempertimbangkan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa di Indonesia (Nusantara) dalam memenuhi syarat sebagai ilmu. Semantik berhubungan erat dengan syarat ketiganya, bila dipahami melalui proposisi logis tepat, selaras, dan memiliki keutuhan (terutama di bidang acuan baik yang objektif/konkret maupun abstrak).</note>
<subject authority=""><topic>semantik bahasa</topic></subject>
<subject authority=""><topic>etimologi</topic></subject>
<subject authority=""><topic>makna bahasa indonesia</topic></subject>
<classification>412</classification><identifier type="isbn">9786028650106</identifier><recordInfo>
<recordIdentifier>112887</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2021-10-15 11:40:11</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2021-10-15 11:40:11</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>